Selasa, 25 Desember 2012
AsikkNya Belajar IPA
Prinsip-prinsip pembelajaran IPA SD
Sebelum
mendiskusikan apa, dan untuk apa serta bagaimana mengaplikasikan
prinsip-prinsip itu dalam pembelajaran, untuk menanam pemahaman konsep
Anda, ikuti kisah atau cerita pendek (cerpen) di bawah ini:
Dalam
salah satu kisah kuno India, diceritakan enam orang buta yang
menggambarkan seekor gajah. Orang pertama mendekati gajah dari samping.
Ia mendapati punggung gajah. Ia katakan gajah itu datar, kokoh seperti
dinding. Orang kedua mendekati gajah dari depan dan terpeganglah
belalai. Ia mengatakan gajah seperti pipa plastic yang lentur, bisa
digulung. Orang ketiga mendekati gajah dari samping, kebetulan agak
pendek, terpeganglah kakinya. Ia bilang gajah itu mirip batang pohom
kelapa, bulat, tegak dan panjang. Orang keempat agak tinggi, ia bernasib
baik dapat memegangi telinga. Ia menyebutkan gajah itu seperti kipas
raksasa. Orang kelima, mendekati dari belakang dan yang terpegang ekor.
Ia bilang gajah itu mirip sikat botol. Dan orang keenam mendekati gajah
dari depan, gading yang tertegang. Ia menyatakan gajah itu mirip tombak.
Mereka bertengkar dan berteriak saling mempertahankan temuannya. Anda,
orang yang tidak buta hanya tersenyum karena Anda tahu bahwa
masing-masing hanya ‘tahu’ sebagian dari seekor gajah yang utuh.
Sesungguhnya, orang buta itu kita, Saya dan Anda. Kita meraba-raba
tentang dunia di sekitar kita. Hasil ‘rabaan’ itu kita nyatakan sebagai
pengetahuan yang telah lengkap, yang benar. Sesungguhnya, perbedaan
pendapat itu disebabkan oleh perbedaan pengalaman. Karena itu, kita
perlu melihat yang lebih luas dan lebih rinci secara sistematis dan
metodis.
Dari
cerpen di atas, dapat digarisbawahi, bahwa pendapat enam orang buta
tentang gajah, memiliki persepsi yang berbeda, ”mengapa?”, karena adanya
pengelaman yang berbeda tentang ”gajah”, makanya supaya ada keseragaman
persepsi tentang gajah itu, perlu ada kriteria-kriteri tersendiri yang
disebut dengan prinsip, demikian juga dalam pembelajaran, di samping
bisa membuat siswa senang, aktif, dan kreatif dalam belajar, perlu
prinsip-prinsip pembelajaran yang harus dikembangkan dalam pembelajaran.
Berikut
disajikan lima prinsip utama pembelajaran IPA tentang kebenaran dalam
pembelajaran IPA yang dijadikan anutan untuk melaksanakan pembelajaran
IPA, yaitu:.
Prinsip 1: Pemahaman kita tentang dunia di sekitar kita di mulai melalui pengalaman baik secara inderawi maupun non inderawi.
Prinsip
2: Pengetahuan yang diperoleh ini tidak pernah terlihat secara
langsung, karena itu perlu diungkap selama proses pembelajaran.
Pengetahuan siswa yang diperoleh dari pengalaman itu perlu diungkap di
setiap awal pembelajaran.
Prinsip
3: Pengetahuan pengalaman mereka ini pada umumnya kurang konsisten
dengan pengetahuan para ilmuwan, pengetahuan yang Anda miliki.
Pengetahuan yang demikian Anda sebut miskonsepsi. Anda perlu merancang
kegiatan yang dapat membetulkan miskonsepsi ini selama pembelajaran.
Prinsip
4: Dalam setiap pengetahuan mengandung fakta, data, konsep, lambang,
dan relasi dengan konsep yang lain. Tugas Anda sebagai guru IPA adalah
mengajak siswa untuk mengelompokkan pengetahuan yang sedang dipelajari
itu ke dalam fakta, data, konsep, symbol, dan hubungan dengan konsep
yang lain.
Prinsip
5: IPA terdiri atas produk, proses, dan prosedur. Karena itu, Anda
perlu mengenalkan ketiga aspek ini walaupun hingga kini masih banyak
guru yang lebih senang menekankan pada produk IPA saja. Namun, perlu
diingat bahwa perkembangan IPA sangat pesat. Kita tidak mampu mengikuti
secara terus- menerus.
Selanjutnya,
jika Anda akan mengembangkan IPA sebagai prosedur, Anda memasuki bidang
yang disebut prosedur ilmiah. Anda masuk pada sebagai ruang dari metode
penelitian. Anda perlu mengenalkan cara-cara mengumpulkan data, cara
menyajikan data, cara mengolah data, serta cara-cara menarik kesimpulan.
Anda dapat mempelajari topik ini pada mata kuliah penelitian.
Lingkungan belajar non fisik
Setelah
Anda mengenal lima prinsip pembelajaran IPA dan siap
mengimplementasikannya, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan
untuk membuat siswa belajar dengan baik, yaitu lingkungan belajar non
fisik. Lingkungan belajar non fisik adalah keadaan psikologis di sekitar
siswa yang diciptakan oleh guru secara sengaja untuk mendorong siswa
belajar.
Faktor-faktor
lain yang perlu mendapat pertimbangan guru dalam melaksanakan
pembelajaran IPA di sekolah, adalah sebagai berikut:
1. Lingkungan belajar mendukung dan produktif.
Lingkungan
belajar yang mencerminkan prinsip ini adalah jika Anda sebagai guru
membangun hubungan yang positif dengan setiap siswa, Anda mengenal dan
menghargai mereka satu per satu. Anda juga membangun budaya saling
menghargai dan saling menghormati antar siswa baik secara individual
maupun kelompok. Anda menggunakan berbagai strategi untuk meningkatkan
keyakinan kepada diri sendiri dan kesediaan mengambil resiko dalam
belajar. Dan, terakhir, Anda perlu menunjukkan rasa aman pada setiap
siswa secara individual melalui dukungan yang terstruktur, penghargaan
pada usaha siswa serta yang dikerjakannya.
Salah
satu yang paling mungkin Anda laksanakan adalah pada setiap proses
pembelajaran Anda mulai dengan mengapresiasi konsepsi siswa tentang
konsep-konsep IPA yang akan dipelajari pada pertemuan itu.
2. Lingkungan belajar menumbuhkan peningkatan kemandirian, kolaboratif, dan motivasi diri.
Dalam
lingkungan semacam ini Anda, sebagai guru, mendorong dan mendukung agar
setiap siswa bertanggung jawab atas belajar mereka masing-masing.
Keberhasilan belajar di tangan para siswa sendiri, sebaiknya ditanamkan.
Anda juga membangun berbagai strategi yang dapat menumuhkan
keterampilan kolaborasi yang produktif.
3. Kebutuhan siswa, perspektif siswa, minat siswa tercermin dalam program belajar.
Lingkungan belajar yang seperti ini tercermin pada diri Anda, sebagai guru yangmenggunakan berbagai strategi yang fleksibel dan responsive terhadap tata nilai, kebutuhan dan minat siswa secara individual. Anda juga mempergunakan berbagai strategi yang mendukung berbagai cara berpikir dan cara belajar siswa. Dan, pengajaran Anda didasarkan pada pengalaman serta pengetahuan awal siswa.
Lingkungan belajar yang seperti ini tercermin pada diri Anda, sebagai guru yangmenggunakan berbagai strategi yang fleksibel dan responsive terhadap tata nilai, kebutuhan dan minat siswa secara individual. Anda juga mempergunakan berbagai strategi yang mendukung berbagai cara berpikir dan cara belajar siswa. Dan, pengajaran Anda didasarkan pada pengalaman serta pengetahuan awal siswa.
4. Siswa ditantang dan didukung agar mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
Lingkungan belajar seperti ini dapat terjadi jika Anda sebagai guru merancang dan mengimplementsikan suatu kegiatan yang menumbuhkan belajar yang berkelanjutan, melalui penekanan hubungan antar gagasan dan konsep, serta menumbuhkan ketrampilan investigasi dan penyelesaian masalah.
Lingkungan belajar seperti ini dapat terjadi jika Anda sebagai guru merancang dan mengimplementsikan suatu kegiatan yang menumbuhkan belajar yang berkelanjutan, melalui penekanan hubungan antar gagasan dan konsep, serta menumbuhkan ketrampilan investigasi dan penyelesaian masalah.
5. Asesmen merupakan bagian integral dari pembelajaran
Lingkungan
belajar seperti ini tercermin pada asesmen yang Anda buat yang dapat
mencakup berbagai macam aspek dari belajar. Misalnya, dalam bentuk porto
folio. Anda juga mengembangkan asesmen dengan kriteria yang jelas serta
terbuka/transparan. Jangan lupa asesmen seperti ini mesti mendorong
siswa untuk melakukan refleksi dan evaluasi diri. Sebaiknya, soal-soal
tes baik formatif maupun sumatif bukan menggunakan bahasa teks dari buku
ajar.
6. Dan, yang terakhir, belajar menghubungkan siswa dengan masyarakat dan praktik yang berada jauh di luar kelas.
Lingkungan
seperti ini dapat terwujud jika Anda sebagai guru mendukung siswa
terlibat dengan pengetahuan konteporer dan pengetahuan praktis di
lapangan. Anda juga membuat rencana yang dapat menciptakan hubungan
antara siswa dengan komunitas sekitarnya. Dalam konteks aliran panas
dalam air Anda dapat mengajak siswa mempelajari cara kerja pemanas air
bertenaga matahari, yang saat ini banyak dipasang di rumah-rumah orang
kaya.
Peran Guru Dalam Implementasi PBAS (Pembelajaran Berbasis Aktivitas Siswa) pada pembelajaran IPA di SD
Peran
Guru Dalam Implementasi PBAS (Pembelajaran Berbasis Aktivitas Siswa) pada pembelajaran IPA di SD
1. Konsep dan tujuan PBAS
PBAS
adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan kepada aktivitas
siswa secara optimal untuk memperoleh hasil belajar berupa panduan antara aspek
kognitif, afektif dan psikomotor secara seimbang.Aktivitas ini dapat berupa
aktivitas fisik,mental maupun keduanya dan pembelajaran berorientasi aktivitas
sswa ini merupkan suatu proses kegiatn belajar mengajar, dimana anak terutama
mengalami intelektualemosional disamping keterlibatan fisik didalam proses
belajar mengajar.
Ada
beberapa asumsi perlunya pembelajaran didesain untuk membelajarkan siswa.
Pertama,
Asumsi filosofis tentang
pendidikan. Pendidikan merupakan usaha sadar mengembangkan manusia menuju
kedewasaan, baik kedewasaan intelektual, social, maupun kedewasaan moral. Kedua , asumsi tentang siswa sebagai
subjek pendidikan, (a ) siswa bukanlah manusia dalam ukuran mini, akan tetapi
manusia sedang dalam perkembangan; (b) setiap manusia memiliki kemampuan yang
berbeda;(c) anak didik yang pada dasarnya adalah insan yang aktif, kreatif, dan
dinamis menghadapi lingkungannya;(d)
anak didik memiliki motivasi untuk memenuhi kebutuhannya. Ketiga , Asumsi tentang
guru adalah (a) guru bertanggung jawab atas tercapainya hasil peserta didik (b)
guru memiliki kemampuan propisional dalam mengajar (c) guru memiliki kode etik
keguruan (d) guru memiliki peran sebagai
sumber belajar. Keempat, asumsi yang berkaitan dengan proses pengajaran.
2. Tujuan PBAS
Tujuan
PBAS adala untuk membantu peserta didik agar bisa belajar mandiri dan kreatif
sehingga ia dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang
menunjang terbentuknya kepribadian yang mandiri.
3. Faktor
yang mempengaruhi keberhasilan PBAS
a.Guru
Dalam proses pembelajaran dalam kelas,
guru merupakan ujung tombak yang sangat menentukan keberhasilan peranan PBAS,
karena guru orang yang berhadapan langsung dengan siswa.
Ada
berapa hal yang harus memenuhi keberhasilan PBAS :
1.Kemampuan
Guru
2.Sikap
Propesional Guru
3.Latar
belakang pendidikan dan pengalaman mengajar Guru
Beberapa
kegiatan yang harus dilakukan dalam PBAS
a) Adanya usaha untuk membina dan mendorong subjek didik dalam menigkatkan
kegairahan serta partisipasi siswa secara aktif
b)Adanya kemampuan guru untuk melakukan peran sebagai innovator maupun motivator
terhadap hal-hal baru dibidang masing-masing dalam proses belajar mengajar
c)
Adanya sikap tidak mendominasi kegiatan belajar mengajar
d) Adnaya pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar menurut cara,irama
maupun tingkat kemampuan masing-masing.
e)
Adanya kemampuan untuk menggunakan berbagai macam strategi belajar mengajar
dan menggunakan multimedia maupun multimetode dalam proses belajar mengajar.
Tugas
lain guru adalah:
a. Mengemukakan berbagai alternative tujuan
pembelalajaran yang harus dicapai sebelum kegiatan pembelajaran dimulai.
b. Menyusun tugas-tugas belajar
bersama siswa.
c. Memeberikan informasi tentang
kegiatan pembelajaaan yang harus dilakukan.
d. Memberikan motivasi, mendorong siswa untuk belajar,
membimbing, dan lainsebagainya
melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan
e. Memberikan bantuan pelayanan pada
siswa yang membutuhkan.
f.
Membantu siswa dalam menarik suatu kesimpulan
4. Sarana belajar
Keberhasilan Implimentasi PBAS juga
dapat dipengaruhi oleh kesediaan sarana belajar. Yang meliputi :
- Ruang kelas
- Media dan sumber belajar
- Lingkungan belajar
Penerapan PBAS dalam Konteks
Pembelajaran
1. Adanya keterlibaan siswa baik secara
fisik, mental, emosional maupun intelektual dalam setiap proses pembelajaran.
2. Siswa belajar secara langsung
(experimental learning)
3. Adanya keinginan siswa untuk
menciptakan iklim belajar yang kondusif
4. Keterlibatan siswa dalam mencari dan
memanfaatkan setiap sumber belajar yang tersedia yang dianggap relevan dengan
tujuan pembelajaran
5. Adanya keterlibatan siswa dalam
melakukan prakarsa/gagasan/ide
6. Terjadinya interaksi multi arah
Contoh Skenario PBAS di Sekolah Dasar kelas 3 Dalam
Pembelajaran IPA dengan materi Lingkungan Sehat.
|
Standar Kompetensi
|
Kompetensi Dasar
|
|
Memahami
kondisi
lingkungan
yang
berpengaruh
terhadap
kesehatan,
dan upaya
menjaga
kesehatan
lingkungan
|
2.1
Membedakan ciri-ciri lingkungan sehat dan
lingkungan
tidak sehat berdasarkan pengamatan
2.2
Mendeskripsikan kondisi lingkungan yang
berpengaruh
terhadap kesehatan
2.3
Menjelaskan cara menjaga kesehatan lingkungan
sekitar
|
1.
Siswa
diajak keluar kelas untuk mengamati beberapa lingkungan disekitar mereka.
2.
Di
usahakan lingkungan yang dikunjungi adalah lingkungan yang memilki keadaan
bersih dan kotor dengan sampah.
3. Pertama-tama
guru mengajak siswa pergi ke lingkungan yang bersih dan disana di adakan
diskusi tentang perasaan mereka dengan mengunjungi lingkungan yang
bersih.Diskusi ini lebih menekankan ajakan kepada siswa untuk menjaga
kebersihan lingkungan.
4.
Setelah
mengunjungi lingkungan yang bersih selanjutnya guru mengajak siswa ke
lingkungan yang kotor,kemudian diadakan diskusi dengan siswa tentang bagaimana
perasaan mereka melihat lingkungan yang kotor.
5. Setelah
ada diskusi siswa disuruh meneliti keadaan lingkungan tersebut, baik dari
udara, keadaan tanah, keadaan tumbuhan disekitarnya, keindahan, dan sebagainya.
6.
Siswa
bersama guru membersihkan lingkungan yang kotor tersebut sebagai pembiasaan
hidup bersih.
7. Jika
ada botol plastik bisa dibawa dan dibersihkan seketika untuk membuat kerajinan sederhana
seperti kipas yang digerakan oleh angin atau dijadikan pot bunga untuk disekolah.
8.
Setelah
membersihkan lingkungan kotor, guru bersama anak-anak mencuci kaki dan tangan
dengan sabun, hal ini bisa digunakan untuk memberi pemahaman kepada siswa bahwa
untuk menjaga kesehatan bisa dengan mencuci dengan sabun setelah melakukan
suatu kegiatan.
9.
Setelah
itu, guru bersama siswa kembali ke kelasdengan hasil pengamatan dan
mendiskusikan kembali dengan siswa mengapa siswa harus menghindari lingkungan
yang kotor.
10. Siswa dibimbing oleh guru
menyimpulkan sendiri tentang pelajaran yang telah mereka lakukan.
Jumat, 02 November 2012
TEKHNIK PROBING DALAM PEMBELAJARAN IPA DI SD
TEKHNIK PROBING DALAM PEMBELAJARAN IPA DI SD
Proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan melalui inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah. Peranan guru dalam memfasilitasi siswa untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar dilandasi oleh pemberdayaan siswa untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah dan membangun pengetahuannya sendiri.
Bertanya merupakan ciri dalam pembelajaran IPA, menemukan merupakan kegiatan inti dari pembelajaran IPA
Penerapan siklus inkuiri tersebut penting mengingat bahwa belajar penemuan memiliki berbagai kelebihan
Penerapan siklus inkuiri tersebut penting mengingat bahwa belajar penemuan memiliki berbagai kelebihan yaitu: (1) Pengetahuan yang diperoleh melalui belajar penemuan dapat bertahan lama dalam ingatan (mudah diingat) jika dibandingkan dengan pengetahuan yang diperoleh dengan cara lain. (2) Belajar penemuan dapat meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan berfikir, karena mereka harus menganalisis dan memanipulasi informasi untuk memecahkan permasalahan. (3) Belajar penemuan dapat membangkitkan keingintahuan siswa, memotivasi siswa untuK bekerja terus sampai siswa menemukan jawabannya.
Bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa
Belajar penemuan dapat meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan berfikir
Seandainya
semua guru mampu dan mau mengembangkan kreativitasnya dalam
pembelajaran, kemungkinan besar proses pembelajaran akan efektif
Pertanyaan yang digunakan untuk membimbing siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan teknik probing, dipilih mulai kategori pertanyaan yang memerlukan proses berbikir tingkat rendah sampai tinggkat tinggi. Aktivitas siswa yang diharapkan terjadi dengan penggunaan teknik probing oleh guru adalah aktivitas yang dapat melatih ketrampilan proses sains.
Bagaimana mengkondisikan teknik probing? Ada 7 (tujuh) tahap aktivitas guru dalam mengkondisikan teknik probing yaitu: (1) Menghadapkan siswa pada situasi baru, misalnya dengan menunjukkan gambar, alat pembelajaran, objek, gejala yang dapat memunculkan teka-teki. (2) Memberi waktu tunggu beberapa saat (3-5 detik) atau sesuai keperluan agar siswa melakukan pengamatan. (3) Mengajukan pertanyaan sesuai indikator atau kompetensi yang ingin dicapai siswa. (4) Memberi waktu tunggu beberapa saat (2-4 detik) untuk memberikan kesempatan siswa merumuskan jawabannya. (5) Meminta seorang siswa untuk menjawab pertanyaan yang telah diajukan. (6) Jika jawaban yang diberikan siswa benar atau relevan dilanjutkan dengan siswa lain, untuk meyakinkan bahwa semua siswa terlibat dalam kegiatan yang sedang berlangsung serta memberi pujian atas jawaban benar. Jika jawaban keliru atau tidak relevan, diajukan pertanyaan susulan yang berhubungan dengan respon pertama, dimulai dari pertanyaan yang bersifat obeservasional kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan yang menuntut siswa berpikir lebih tinggi menuju pertanyaan indikator ketercapaian kompetensi dasar sampai siswa dapat menjawab pertanyaan yang diajukan tadi. Pertanyaan yang diajukan pada tahap 6 (enam) ini sebaiknya diajukan/diinteraksikan juga pada siswa lain agar seluruh siswa terlibat dalam kegiatan probing. (7) Mengajukan pertanyaan akhir pada siswa lain untuk lebih menegaskan bahwa kompetensi dasar yang dituju sudah tercapai.
Penentuan materi yang akan disajikan dengan teknik probing dapat dimulai pada waktu guru menyusun silabus, pada waktu menganalisis standar kompetensi maupun kompetensi dasar. Selanjutnya rancangan seri pertanyaannya disiapkan pada rencana pelaksanaan pembelajaran berupa pertanyaan-pertanyaan pokok. Pertanyaan tambahan akan muncul sesuai dengan jawaban yang diberikan siswa.
Penggunaan teknik probing oleh guru dalam pembelajaran IPA sangat memungkinkan, bahkan dalam pembelajaran mata pelajaran yang lain. Hal ini mengingat bahwa semua guru tentunya telah menguasai jenis-jenis pertanyaan, ketrampilan bertanya yang meliputi penggunaaan pertanyaan/teknik bertanya, tujuan bertanya maupun menanggapi jawaban siswa. Disinilah ruang gerak guru dalam mengembangkan kreativitasnya, untuk memvariasikan metode pembelajaran. Dengan memvariasikan metode pembelajaran diharapkan berbagai gaya belajar siswa dapat terlayani, suasana pembelajaran dapat tampil beda sehingga siswa dapat belajar dalam kemasan joyful learning yang tentunya dapat meningkatkan efektivitas pembelajarannya. Peningkatan efektifitas pembelajaran memunculkan peningkatan hasil belajar yang dapat memberikan motivasi untuk berprestasi baik pada guru maupun siswa.
Seandainya semua guru mampu dan mau mengembangkan kreativitasnya dalam pembelajaran, khususnya memvariasikan kemasan skenario pembelajarannya dengan memilih metode termasuk didalamnya teknik-teknik yang sesuai dengan materi pembelajaran maupun indikator pencapaian kompetensinya, kemungkinan besar proses pembelajaran akan efektif. Bapak dan ibu guru, selamat berjuang. Maju terus pendidikan di Indonesia
Pelaksanaan Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
Pelaksanaan Pembelajaran IPA SD
Pembelajaran
IPA di SD tidak hanya menekankan pada penguasaan konsep-konsep IPA
saja, tetapi juga menekankan pada proses penemuan. Dengan demikian
setelah mengikuti kegiatan pembelajaran IPA, siswa tidak hanya menguasai
konsep tetapi juga menguasai keterampilan proses dan sikap ilmiah.
Peralatan IPA
Pembelajaran IPA yang demikian membutuhkan berbagai macam peralatan dan bahan. Berbagai benda dalam kehidupan sehari-hari dapat dimanfaatkan sebagai peralatan dalam pembelajaran IPA. Selain itu, ada juga peralatan pembelajaran IPA yang “standar”, misalnya gelas kimia, neraca, Kit IPA, dan lain-lain. Sebagai guru, Anda harus menguasai bagaimana mengatur berbagai peralatan tersebut sehingga persiapan, pelaksanaan, dan pasca pembelajaran IPA berlangsung seperti yang Anda rencanakan.
Peralatan IPA
Pembelajaran IPA yang demikian membutuhkan berbagai macam peralatan dan bahan. Berbagai benda dalam kehidupan sehari-hari dapat dimanfaatkan sebagai peralatan dalam pembelajaran IPA. Selain itu, ada juga peralatan pembelajaran IPA yang “standar”, misalnya gelas kimia, neraca, Kit IPA, dan lain-lain. Sebagai guru, Anda harus menguasai bagaimana mengatur berbagai peralatan tersebut sehingga persiapan, pelaksanaan, dan pasca pembelajaran IPA berlangsung seperti yang Anda rencanakan.
- Manajemen Pemanfaatan Peralatan IPA
Apakah anda menginginkan pemanfaatan peralatan IPA dalam kegiatan pembelajaran di kelas yang anda lakukan berjalan dengan lancar? Hal ini akan terjadi bila anda melakukan pengelolaan peralatan IPA dengan benar mulai dari pengambilan peralatan, penggunaan, penyimpanan, dan perawatan. Untuk itu anda harus menguasai dengan baik manajemen pemanfaatan peralatan IPA. Dalam manajemen pemanfaatan peralatan IPA, terdapat dua kegiatan utama yaitu pengklasifikasian peralatan dan pengelolaan peralatan. - Pengklasifikasian Peralatan IPA
Pengklasifikasian merupakan suatu proses pengelompokan berdasarkan ciri tertentu. Langkah yang dilakukan mulai dari identifikasi ciri dari masing-masing peralatan, menentukan ciri yang digunakan sebagi dasar pengelompokan, dan melakukan pengelompokan berdasarkan ciri yang ditentukan. Peralatan IPA dapat diklasifikan berdasarkan bahan dan fungsinya, misal: alat ukur1, alat dari gelas2, model3, bagan4, alat siap pakai (rakitan)5, alat bantu proses percobaan6. Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari pengelompokan peralatan IPA yang diantaranya adalah memudahkan penyimpanan, perawatan, dan pengambilan peralatan dari tempat penyimpanan. - Pengelolaan Peralatan IPA
Pengelolaan peralatan IPA merupakan proses perencanaan, pemanfaatan, pengorganisasian, dan perawatan berbagai peralatan dalam IPA. Perencanaan praktikum meliputi kegiatan menentukan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, mengidentikasi peralatan dan bahan yang tersedia, memeriksa kelayakan alat dan kecukupan jumlah, menentukan solusi jika ada permasalahan, menentukan strategi yang akan digunakan dalam praktikum.
Langganan:
Postingan (Atom)